#FREE PDF Â Gelandangan di Kampung Sendiri ¶ eBook or E-pub free

saya suka buku ini sejak saya SD buku ini ada di antara buku2 lusuh bapak saya ketika SD itu saya sempat membaca 1 4 isinya namun ga mudeng sama sekali dan 14 tahun kemudian kira kira, saya kembali membaca buku ini, saya gadang gadang, saya eman eman namun sayangnya ketika saya pergi ke Gorontalo, buku ini hilang disana hikzzzzz sungguh berat untuk saya semakin menyesal ketika bapak saya bilang kalau buku ini merupakan pemberian langsung cak nun hikxxx hikzzz semoga saya bisa dapat buku ini lagii aaamiin. tulisan beliau tentang Indonesia selalu bikin geleng geleng kepala, entah karena takjub atau karena termakan indahnya dunia entahlah tapi super menarik, ditulis tahun 1995 dan permasalah sosial masih relevan sampai sekarang. #FREE PDF ô Gelandangan di Kampung Sendiri ⚡ Rasa Rasanya, Para Pejabat Sering Salah Sangka Terhadap Rakyat Dan Dirinya Sendiri Mereka Menyangka Bahwa Mereka Adalah Atasan Rakyat, Sementara Rakyat Mereka Kira Bawahan Mereka Merasa Tinggi Dan Rakyat Itu Rendah Maka, Mereka Merasa Sah Dan Tidak Berdosa Kalau Memaksakan Kehendak Mereka Atas Rakyat Mereka Membuat Peraturan Untuk Mengatur Rakyat Karena Merasa Merekalah Yang Berhak Membuat Peraturan Rakyat Hanya Punya Kewajiban Untuk MenaatinyaInilah Tatanan Dunia Yang Dibolak Balik Bukankah Hak Atas Segala Aturan Berada Di Tangan Rakyat Kalau Rakyat Tidak Setuju, Itu Berarti Bos Tidak Setuju Hamba Sahaya Harus Punya Telinga Selebar Mungkin Untuk Mendengarkan Apa Kata Juragannya Maka Menjadi Aneh Jika Rakyat Terus Menerus Diwajibkan Berpartisipasi Dalam PembangunanKarena Rakyatlah Pemilik Pembangunan 4.5ini karya Cak Nun paling nyenengin saat di baca dari judul yang lainnya suka sekali penjabaran per babnya, lebih mudah dicerna dan masuk akal ga ngebosenin juga Orang lebih takut kepada ketakutan dibanding kepada TuhanHal 233Dinamika sosial berlangsung dari waktu ke waktu Sejak negeri ini mulai berdialektika dengan kemerdekaannya sendiri Melalui buku ini, agaknya Emha masih melontarkan kritik sosialnya pada berbagai persoalan pembangunan Buku ini menghimpun catatan catatan Emha yang terbit pada rentang tahun 1991 1994 di berbagai media cetak seperti Suara Pembaruan, Suara Karya, dan Surya serta beberapa dokumentasi pribadinya Dilema pembangunan yang membawa arus modernitas tidak bisa tidak berhadapan dengan arus kehidupan masyarakat yang masih agraristik Hal itu masih dapat dirasakan pada konteks kekinian, dimana tidak banyak perubahan yang terjadi sejak buku ini terbit pertama kali pada tahun 1995 hingga kini Kalaupun boleh menambahi, arus modernisasi dan globalisasi saja yang semakin membawa pengaruh.Bagian pertama dan kedua buku dinamakan sebagai Pengaduan I dan Pengaduan II Emha mengumpulkan berbagai pengalaman dan keluh kesah orang orang yang mendatanginya Kemungkinan besar, kalau dilihat dari bahasa penyampaiannya, berasal dari rubrik yang diasuhnya di harian Surya Esai esainya memberi banyak pencerahan sekaligus refleksi tentang nilai dan hubungan kemanusiaan yang kian pudar Riuh pembangunan telah mengikis kesadaran manusiawi menjadi kepatuhan yang berdasar pada ketakutan Personally, buku ini juga membuat saya teringat pada kalimat pembuka lirik lagu Tombo Ati gubahan Emha dan Kiai Kanjeng Dua bab selanjutnya diberi judul Ekspresi dan Visi Pada bagian inilah Emha menyatakan ketidaksetujuannya pada tatanan birokratik yang terus menerus mewajibkan rakyat berpartisipasi dalam pembangunan Benturan benturan dalam masyarakat yang sengaja diciptakan dan dikondisikan dalam menyambut Pemilu 1992 hanyalah contoh kecil Emha juga menyertakan contoh bagaimana mahasiswa KKN yang datang dari kota dengan segala keilmuan dan arus modern yang dibawanya berhadapan dengan masyarakat pedesaan yang diwakili Pak Mataki, Bu Limah, dan Pak Dayik Dialektika antara keduanya menjadi hal yang patut direnungkan bersama.Apakah semua kemajuan pembangunan ini lantas membuat kita jadi gelandangan di kampung sendiri Luar biasa Dari tulisan tulisan dalam buku ini saya seperti melihat keadaan Indonesia awal 90an yang mana ternyata tulisan tulisan tersebut masih relevan sampai hari ini. Ini seharusnya update tanggal selesai baca buku, bukan memulai Tapi tak apalah, akhir akhir ini aku kerap dijangkit lupa Melupakan lebih tepatnya Malah curhat Jadi, kenapa bisa memberi empat bintang untuk buku ini Meskipun topik yang dibahas Cak Nun dalam buku adalah topik yang berkaitan dengan peristiwa yang terjadi pada tahun dimana masanya Cak Nun masih muda , namun mayoritas masih relevan dengan kondisi sosial pada tahun sekarang, masa masanya aku Beberapa judul artikel dalam buku ini yang isinya rasa rasanya menyuarakan secara nampol pikiran dan unek unek ku seperti Darah Dagingku Riba Orang Kecil, Orang Biasa Bayi, kok jadi DPR Lalu Lintas Dunia Ketiga Egosentrisme Mengubah Desa, Mengubah Negara Balada Bu Limah dan Etos Havara Terlepas dari Cak Nun sendiri yang dianggap sebagai kiai edan atau kekiri kirian atau semacamnya, isi pembahasan dalam artikel beliau ini dapat mencongkel sedikit lubang untuk menumbuhkan kesadaran akan kehidupan masyarakat kecil, kaum bawah, orang desa, orang pinggiran, dan kawan kawannya Selain itu, hampir berbarengan dengan pelaksanaan KKN ku akhir bulan ini, artikel yang menyinggung tentang keberadaan mahasiswa KKN di suatu desa yang hadir dengan setumpuk program kerjanya Mengubah Desa, Mengubah Negara terdapat satu sentilan yang membangunkan kesadaran di hati otak ku Memang tema tema yang dipilih oleh para mahasiswa itu sering muluk muluk Para penduduk kurang paham dan sebagian menjadi apriori dan Payah Kalau di tingkat desa saja kalian tak berani, bagaimana mau mengubah negara Nah, nampol sekali bagiku yang seorang mahasiswa tingkat akhir Sudah berbuat, berkarya apa untuk bangsa negaramu di zaman yang bahkan saat lapar saja tinggal tekan tombol telepon Pencerahan serius, kan Duh, bagaimana bisa mewujudkan agent of change kalau hal hal seperti ini saja baru sadar sekarang Buku yang saya baca ini adalah cetakan 95, diberikan oleh seorang teman asal Jember yang sama sama nyantri di Jember sekitar tahun 2014 lalu.Dari pertama dapat buku ini yang mana aku minta secara paksa lebih tepatnya D , ternyata saya tidak terlalu nyaman mungkin dikarenakan bentuk buku yang sudah lawas Selama ini saya selalumembaca buku EAN yang dicetak ulang Dan juga tulisan pertama yang berjudul Lingsem yang saya tak kunjung paham bahkan mungkin sampai sekarang.Tapi baru beberapa waktu lalu, saya tekadkan untuk meneruskan membaca Dan ternyata, buku Gelandangan di Kampung Sendiri ini mudah sekali untuk dicerna Termasuk buku yang nyaman , karena tidak jarang dengan kemampuan pemahaman saya, saya suka kesulitan memahami tulisan EAN semisal buku Arus Bawah Buku Gelandangan di Kampung Sendiri, walaupun tulisan lama Menurut saya masih amat sangat relevan dengan kehidupan zaman sekarang Banyak hal hal yang mencerahkan bagi saya Misalkan tentang, posisi pemerintah dan rakyat Yang dari dulu saya sudah tau bahwa rakyat adalah bos Tanpa tahu betul bagaimana maksud dan operasional yang seharusnya terjadi Makanya saya iya iya saja dengan fenomena sekarang D.Tapi melalui buku ini saya sangat mendapatkan kejelasan yang dalam, tentang rakyat itu bos , dan pemerintah itu karyawan.Dan juga ada tentang perbedaan sakit dan penyakit, yang sering kali luput Tentang bagaimana seharusnya perspektif dan laku mahasiswa ketika kembali ke desa.Dan banyak lagi, yang luar biasa Sekolah itu bukan untuk naik gengsi, dari kasar menjadi halus Sekolah adalah arena berlatih agar manusia berkembang menjadi manusia yang memahami kesamaan di antara manusia, serta memiliki etos fungsi bagi masyarakat hal 274 Kata Arswendo, kalau budayawan sudah ngritiki negara dan suasana politik, berarti benar benar kacau Karena kelompok yang penuh keikhlasan itu mengkritik benar benar tanpa pamrih Dan Cak Nun dalam buku ini benar benar menjadi corong akan suara suara orang yang terimpit persoalan dan bingung mau curhat ke mana Pokok bahasan utama yang dibold dalam buku ini adalah polaritas antara pihak pemerintah dan rakyat Dua belah pihak tersebut seolah hanya bertemu dalam ajang lima tahunan pemilu Setelah itu berjalan masing masing Pemerintah hidup dengan status priagung dan rakyat kembali dengan hidup nestapanya Rakyat selalu menjadi objek aneka putusan pemerintah Akibtanya apa Penggusuran, kesengsaraan, dan macam macam Padahal menurut Cak Nun, Rakyat adalah juragan dan pejabat adalah jongos Tapi sekarang banyak jongos yang memperbudak juragan.Jleb banget.Untuk esai yang ditulis di zaman Orba, dan sekarang menemui pembaca milenium kembali, seolah permasalan negeri ini tidak beranjak jauh dari persoalan dua puluh lima tahun lalu. meskipun saya baru membaca buku ini di tahun 2014, masih ada beberapa topik bahasan yang dibahas oleh Cak Nun, yang menurut saya relevan dengan keadaan sekarang Benar benar bacaan yang menarik